Showing posts with label Sragen. Show all posts
Showing posts with label Sragen. Show all posts

Thursday, March 10, 2011

Archeological Museum Sangiran

Sragen is one city in Central Java, which directly borders with East Java province. Sragen is the gateway for entry into the province of Central Java, if from the east. Sragen city which has the nickname "Tlatah Sukowati" has an area of 941.55 square kilometers, with a topography as follows: in the middle flow region Solo River which is the longest river in Java, the area is part of the south slope of Mount Lawu ; the northern part of the Mountains Kendeng; and the west is an area that is known as "Sangiran Dome. " City of Residence Sragen still included in Surakarta.
Sangiran Museum is located in the village Krikilan Kalijambe, about 40 kilometers from the town of Sragen and approximately 17 kilometers from the city of Solo. Sangiran Museum store up to tens of thousands of fissile dai era pleistosencoarse about 2 million years ago. These fossils be an 65% of that is in indonesia and 50% in Indonesia. Until now it has found more than 13,685 fossils, and 2931 fossil museum, the rest are stored in the storage area. There is also a tower of view that we can use to see the beauty of the area around the Sangiran.
The place that has the title World Heritage List (World Heritage), has the facilities adequate, such as: Space Exhibition (fossils of ancient humans and animals), laboratory, storage facilities, fossil, indoor slide, and the stores that peddle souvenirs Sangiran.
Sangiran owned more value, based on the research of geologists, the antiquity of Sangiran is an ocean. Due to changes in the process of Geology and volcanic Lawu, Merapi, and Merbabu, this region into the mainland. This can be seen from the structure of soil contained in these areas are different from the others. And some facts that indicate that the place was once the sea bed is the discovery of fossils of marine animals at the bottom layer.
Sangiran Museum is a historical tour that is very feasible for us to visit.

Saturday, November 13, 2010

Museum Purbakala Sangiran

Pintu mauk museum Sangiran
Sragen merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur. Sragen merupakan pintu gerbang untuk masuk ke provinsi Jawa Tengah jika dari arah timur. Kota Sragen yang memilki julukan "Tlatah Sukowati" ini memiliki luas wilayah 941,55 KM 2 , dengan topografi sebagai berikut: di tengah-tengah wilayah mengalir Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa; daerah sebelah selatan merupakan bagian dari lereng Gunung Lawu; sebelah utara merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng; dan sebelah barat merupakan kawasan yang sangat terkenal dengan sebutan “Kubah Sangiran”. Kota Sragen masih termasuk dalam karisidenan Surakarta.
Museum Sangiran terletak di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, sekitar 40 km dari kota Sragen dan kurang lebih 17 km dari kota Solo. Museum Sangiran menyimpan hingga puluhan ribu fisil dai jaman Pleistocen sekitar 2 juta tahun yang lalu. Fosil-fosil ini merupaka 65% dari yang ada di Idonesia dan 50% di seluruh Indonesia. Sampai sekarang ini telah diketemukan lebih dari 13.685 fosil, dan 2.931 fosil yang ada Museum, sisa di simpan di dalam tempat penyimpanan. Juga terdapat menara pandang yang dapat kita gunakan untuk melihat keasrian daerah sekitar Sangiran.

fosil manusia purba
 Tempat yang memiliki titel World Heritage List (Warisan Budaya Dunia) ini, memiliki fasilitas-fasilitas yang cukup memadai seperti: Ruang Pameran (fosil manusia dan hewan purba), laboratorium, gudang penyimpanan fosil, ruangan slide, dan toko-toko yang menjajakan souvenir khas Sangiran.
Nilai lebih yang dimiliki Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi, pada jaman dahulu Sangiran merupakan lautan. Akibat perubahan proses Geologi dan letusan gunung Lawu, Merapi, dan Merbabu, wilayah ini menjadi daratan. Hal ini dapat terlihat dari struktur tanah yang terdapat di wilayah tersebut yang berbeda dengan yang lainnya. Dan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa tempat tersebut dulunya hamparan laut adalah ditemukannya fosil-fosil binnatang laut pada lapisan paling bawah.
Museum Sangiran merupakan wisata sejarah yang sangat layak untuk kita kunjungi.

Thursday, October 7, 2010

Asal Usul Sragen

Pangeran Mangkubumi adik dari Sunan Pakubuwono II di Mataram sangat benci kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda mengintervensi Mataram sebagai Pemerintahan yang berdaulat. Oleh karena itu dengan tekad  menyala, bangsawan muda tersebut lolos dari istana dan menyatakan perang dengan bangsa kolonial Belanda.
Perang tersebut disebut dengan Perang Mangkubumen ( 1746 – 1757 ). Dalam perjalanan perangnya Pangeran Muda dan pasukannya dari Keraton, bergerak melewati desa-desa Cemara, Tingkir, Wonosari, Karangsari, Ngerang, Butuh, Guyang. Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju ke Desa Pandak, Karangnongko dan masuk tlatah Sukowati.
Di Desa ini, pangeran Mangkubumi membentuk pemerintahan pemberontak. Desa Pandak, Karangnongko di jadikan pusat pemerintahan Projo Sukowati, dan Beliau meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati serta mengangkat pula beberapa pejabat Pemerintahan.
Karena secara geografis terletak di tepi Jalan Lintas Tentara Kompeni Surakarta – Madiun, pusat Pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, maka kemudian sejak tahun 1746 dipindahkan ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara desa Pandak Karangnongko. Sejak itu pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya yakni Desa Krikilan, Pakis, Jati, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grompol, Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari dan beberapa desa Lainnya.
Dengan daerah kekuasaan serta pasukan yang semakin besar, pangeran Sukowati terus menerus melakukan perlawanaan kepada kompeni Belanda dan bahu membahu dengan saudaranya Raden Mas Said, yang berakhir dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang dikenal Perjanjian Palihan Negari, yaitu kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, dimana Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono ke-1 dan perjanjian Salatiga tahun 1757, dimana Raden Mas Said ditetapkan menjadi Adipati Mangkunegara I dengan mendapatkan separuh wilayah Kasunanan Surakarta.
Selanjutnya sejak tanggal 12 Oktober 1840 dengan surat Keputusan Sunan Paku Buwono VII yaitu serat Angger – angger Gunung, daerah yang lokasinya setrategis ditunjuk menjadi Pos Tundan,
yaitu tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan Lalu Lintas Barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan, termasuk salah satunya adalah Pos Tundan Sragen.Perkembangan selanjutnya sejak tanggal 5 juni 1847 oleh Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Residen Surakarta baron de Geer ditambah kekuasaan yaitu melakukan tugas kepolisian dan karenanya disebut Kabupaten Gunung Pulisi Sragen. Kemudian berdasarkan Staatsblaad No 32 Tahun 1854, maka di setiap kabupaten Gunung Pulisi di bentuk pengadilan kabupaten, dimana Bupati Pulisi menjadi ketua yang dibantu oleh Kliwon, Panewu, Rangga dan Kaum.
Sejak tahun 1869, daerah Kabupaten Pulisi Sragen memiliki 4 ( empat ) Distrik, yaitu Distrik Sragen, Distrik Grompol, Distrik Sambungmacan dan Distrik Majenang.
Selanjutnya sejak Sunan Paku Buwono VIII dan seterusnya diadakan reformasi terus menerus dibidang pemerintahan, dimana pada akhirnya kabupaten Gunung Pulisi Sragen disempurnakan menjadi Kabupaten Pangreh Praja. Perubahan ini ditetapkan pada jaman pemerintahan Paku Buwono X, Rijkblaad No. 23 Tahun 1918, dimana kabupaten Pangreh Praja sebagai daerah otonom yang melaksanakan kekuasaan hukum dan pemerintahan.
Dan Akhirnya memasuki Zaman Kemerdekaan Pemerintah Republik Indonesia , Kabupaten Pangreh Praja Sragen menjadi Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen.
Dan ketika segera mencapai kemerdekaan pemerintahan NKRI, kabupaten Pangreh Praja Sragen menjadi pemerintahan daerah kabupaten Sragen. Dan begitulah muncul nama Sragen...

Advertise